Hate Or Love (Part 4)

Title : Hate Or Love (Part 4)
Author : deyvible
Genre : romance, sad, complicated
Cast : Cho Kyuhyun , Choi Sooyoung
Other cast : find it

FF ini murni dari ideku. Jika ada kesamaan mohon maaf dan mention @deyvible18 atau tinggalkan comment. Happy reading ^^

Sooyoung POV

Aku sedikit heran dengan isi kotak ini saat pertama kali membukanya.

“Apa ini? Gantungan kunci dari Paris? Kertas lagu dan surat? Untuk apa oppa meletakkannya dikotak?”

Kubaca salah satu surat yang letaknya paling atas.

To: Kyuhyun Oppa
Oppa, saengil chukkae! Mianhae karena aku lupa memberikan oppa hadiah ulang tahun sebelum aku pergi ke Paris. Tapi saat tiba di Paris, aku melihat ada gantungan kunci yang cocok untuk mengungkapkan kata-kataku untuk oppa. “vous aimer, pour toujours” artinya “love you, forever”. Aku sangat suka kata-katanya, jadi aku membelikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk oppa. aku ingin oppa selalu mengingatku saat membaca kata-kata itu. Semoga oppa akan selalu mengingatku seperti kata-kata dalam gantungan kunci itu. Saranghae!
From: Seohyun

“Seohyun?…” kenapa nama itu seperti familiar ditelingaku? Apakah aku pernah mengenalnya?

Ada beberapa foto dibagian paling dasar kotak ini. Tertutup oleh tumpukan surat-surat. Kulihat satu per satu foto-foto tersebut. Foto-foto Kyuhyun bersama seorang yejoa. Aku juga merasa familiar dengan wajahnya. Apakah kami juga pernah bertemu sebelumnya?

Ada satu foto yeoja yang sama dengan sebelumnya, hanya saja dia berpose sendiri dan tersenyum menghadap kamera sepertinya. Saat aku membalik foto tersebut, ada kata-kata yang aku yakini sebagai tulisan tangan Kyuhyun.

‘My lovely yeojachingu, never forget you and always love you. Saranghae’

Ternyata yeoja difoto ini adalah mantan yeojachingu yang pernah dia katakan. Dulu memang pernah kutanyakan padanya apakah dia pernah berpacaran sebelumnya, dan dia mengatakan pernah sekali dan itu sudah berakhir 5 tahun yang lalu. Tapi kenapa dia masih menyimpan semua barang-barang dari mantannya?

Kuperhatikan terus foto yeoja ini dan akhirnya sebuah kilasan ingatan melintas dikepalaku. Aku mengingat sesuatu. Hal yang selama ini aku coba tutup dalam otakku. Memori yang sangat menyakitkan.

“Tidak mungkin.. ini pasti salah” kucoba meyakinkan diriku sendiri sampai akhirnya air mata membasahai pipiku.

Aku memang mengenal yeoja ini. Kejadian 5 tahun lalu. Ini seperti membuka kembali luka lamaku. Kesalahan terbesar dalam hidupku dan dimasa remajaku. Rasanya apa yang selama ini telah kulakukan bersama Kyuhyun juga adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya aku berhubungan dengannya. Tidak seharusnya juga aku kembali ke Seoul. Tidak pernah sedikitpun aku melupakan kesalahanku dulu walaupun aku sudah mencobanya. Bahkan terkadang masih terbawa sampai ke dalam mimpiku saat tidur. Perasaan bersalah yang selalu mengantuiku selama 5 tahun ini.

Setelah berpikir cukup lama tentang semua kenyataan yang ada dihadapanku sekarang, aku sudah memutuskan apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku harap ini lah yang terbaik. Terbaik untuk Kyuhyun lebih tepatnya.

Kyuhyun POV

‘cklek’

“Soo.. aku pulang” kenapa sepi sekali? Biasanya Sooyoung akan menyambutku di depan pintu saat aku tiba.

Aku menuju ruang makan, mungkin dia sudah menungguku untuk makan malam. Saat aku tiba di ruang makan, kulihat Sooyoung sudah duduk di sana sambil menundukkan kepalanya. Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu lagi?

“Soo..” kupanggil dia, tapi tidak ada respon sama sekali.

“Sooyoung-ah..” sepertinya dia melamun. Kutepuk pundaknya dan sepertinya dia mulai sadar dari lamunannya karena dia menatap ke arahku.

“Oh, oppa. Kapan pulang?” senyuman itu lagi. Senyum terpaksa darinya. Sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya tersenyum seperti itu.

“Baru saja. Kau melamunkan apa?” kuelus rambut panjangnya yang lembut.

“Tidak ada apa-apa. Kajja kita makan. Pasti oppa belum makan malam”

“Ne”

Aku duduk dihadapannya. Dia mulai mengambilkanku nasi serta lauk, seperti biasanya dia melakukan ini padaku. Kupandangi terus dia saat makan. Baru beberapa suap, makanannya hanya diaduk-aduk olehnya tanpa disentuh lagi. Ada apa sebenarnya?

“Kau tidak melanjutkan makanmu?” kulihat dia tersadar dari lamunannya seperti tadi.

“Oh, ne” dia melanjutkan makannya lagi.

Setelah selesai makan, aku meninggalkannya yang sedang mencuci piring untuk segeram mandi. Hari ini dia terlihat aneh. Padal tadi pagi saat ditelpon suaranya masih terdengar ceria. Selesai aku mandi, langsung kuhampiri dirinya yang sedang duduk disofa ruang tengah. Dia melamun lagi. Aku duduk disebelahnya dan reaksi kagetnya sama seperti tadi saat makan.

“Oppa sudah selesai mandi? Mau kubuatkan coklat panas?” tanyanya padaku dan hendak beranjak dari duduknya. Tapi sebelum dia pergi, kugenggam tangannya.

“Tidak usah. Duduklah” akhirnya dia kembali duduk disebelahku.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau dari tadi terlihat melamun? Apakah terjadi sesuatu hari ini?” kugenggam kedua tangannya dan mengusapnya secara perlahan.

“Tidak ada apa-apa. Mungkin aku hanya kelelahan karena habis membersihkan apartemen oppa” dia memberikanku senyum paksaan lagi. Ini membuatku semakin yakin ada sesuatu yang terjadi padanya. Kurasa dia memang belum mau menceritakan masalahnya.

“Baiklah. Kalau begitu, ada yang ingin aku bicarakan padamu”

“Apa yang ingin oppa katakan?” tanyanya padaku. Haruskah aku katakan sekarang? Tapi jika tidak sekarang, kapan lagi. Sooyoung akan semakin sibuk dengan persiapan sidangnya dan aku dengan tugas-tugasku sebagai dosen.

“Aku ingin benar-benar melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius. Seperti yang pernah aku katakan, kau sebentar lagi akan lulus. Aku ingin kita menikah setelah kita lulus nanti” kukeluarkan sebuah kotak merah dan membukanya dihadapnnya. Sebuah cincin yang sudah kusiapkan sejak bulan lalu.

“Mungkin hubungan kita memang belum terlalu lama. Tapi aku merasa sudah yakin bahwa kau memang orang yang kubutuhkan untuk mendampingiku seumur hidupku dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti. Aku tidak ingin kehilanganmu, jadi aku memutuskan hal ini adalah cara yang tepat untuk mempererat hubungan kita sekaligus mengikatmu untuk selalu bersamaku. Maukah kau menikah denganku?” dia hanya diam. Tapi dari diamnya, tiba-tiba dia menangis. Aku tidak bisa mengartikan tangisannya. Apakah bahagia atau justru tangisan karena dia akan menolakku karena belum siap?

“Uljimayo Soo..” kuhapus air matanya dengan ibu jariku.

“Mianhae oppa, jeongmal mianhae” dia mengatakannya dengan sesenggukan.

“Gwaenchanha. Sstt.. uljimayo. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi”

“Mianhae oppa. aku.. tidak bisa” kata-katanya seperti menusuk hatiku. Inilah yang aku takutkan.

“Gwenchana jika kau kau memang belum siap. Aku akan menunggumu” kupeluk tubuhnya dan mengusap punggungnya. Kurasakan dia melepas pelukanku dan menatapku dengan air mata yang masih terus membasahi pipinya.

“Oppa, mianhae. Kau jangan menungguku. Aku tidak pantas untukmu. Carilah yeoja lain yang lebih baik dan pantas untukmu”

“Apa maksudmu?” aku mencoba mencerna kembali apa yang baru saja dia katakan.

“Aku.. aku ingin kita…” dia memejamkan matanya.

“Putus..” ucapannya benar-benar membuat hatiku hancur. Benarkah apa yang dia katakan?

“Kau hanya bercanda kan? Katakan kalau ini tidak benar” ucapku yang dibarengi dengan sedikit nada bercanda, walaupun masih terdengar getir.

“Aku serius” lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.

“Tatap mataku Soo, katakan kalau ini tidak benar” kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku, menuntunnya untuk menatapku. Saat kami bertatapan, aku dapat melihat tatapan sedih dalam matanya. Ini menguatkan keyakinanku bahwa ini bukan lah apa yang dia inginkan.

“Soo..”

“Oppa, mianhae. Aku benar-benar ingin kita putus” aku mulai menatapnya tajam. Kesabaranku mulai memuncak.

“Andwe Soo, andwe. Aku tidak ingin kita putus. Maafkan aku jika aku berbuat salah padamu. Aku akan memperbaikinya. Aku siap menunggumu jika kau memang belum siap. Kaulah yang pantas berada disisiku. Bukan yeoja lain. Kumohon Soo jangan pernah meninggalkanku” aku berlutut dihadapannya dan menggenggam erat kedua tangannya. Seakan-akan dia benar-benar akan melepaskan tanganku.

“Oppa.. bangunlah. Kau tidak pernah berbuat salah padaku. Akulah yang sudah bersalah padamu. Aku benar-benar tidak pantas bersamamu. Jadi aku mohon kita akhiri hubungan kita” ucapnya dengan sesenggukan.

“Andwe Soo.. ANDWE!!” aku mulai tidak bisa menahan kemarahanku.

“AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGAKHIRI HUBUNGAN KITA. AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKANMU” air mata mengalir dikedua pipiku.

“Oppa.. gumanhae. Ini yang terbaik untuk kita berdua”

“APA MAKSUDMU DENGAN TERBAIK UNTUK KITA. INI HANYA AKAN MENYAKITI HATI KITA. JIKA AKU HARUS KEHILANGANMU, LEBIH BAIK AKU MATI! AKU..”

“Oppa.. gumanhae, jebal” kurasakan pelukan hangatnya. Aku membalas pelukannya lebih erat. Aku tidak ingin kehilangan pelukannya.

“Aku mencintaimu Soo. Sangat mencintaimu. Jika kau merasa berbuat salah padaku, aku akan selalu memafkanmu. Asalkan kau tetap disisiku” suaraku mulai melembut padanya. Amarahku langsung teredam oleh pelukannya. Dia melepaskan pelukannya dan memandangku. Air matanya masih terus mengalir. Aku tau, itu adalah pandangan cinta.

“Aku juga mencintaimu. Tapi aku mohon, kita akhiri semua ini. Jika kita lanjutkan, hanya akan menyakiti perasaan oppa. aku benar-benar tidak pantas berada disisi oppa.jadi maafkan aku karena tidak bisa selalu bersama oppa dan menepati janjiku. Carilah yeoja lain yang akan bisa mendampingimu. Selamat tinggal”

Dia menciumku. Ciuman yang sangat dalam dan basah karena air mata kami. Aku juga tidak ingin kehilangan sentuhan bibirnya dibibirku. Saat aku akan membalas ciumannya, dia justru melepaskan ciuman kami dan bergegas mengambil tasnya yang memang berada disofa lalu menghilang dibalik pintu apartemenku yang telah tertutup kembali.

Aku ingin sekali mengejarnya dan mencegah dia untuk tidak pergi dariku. Tapi tubuhku terasa kaku. Otak dan tubuhku tidak bergerak seperti yang aku inginkan. Aku merasa seperti orang bodoh sekarang. Tidak bisa mencegah kepergian orang yang sangat kucintai. Untuk kedua kalinya orang yang kucintai pergi dari hidupku. Apa salahku? Apa? Kami saling mencintai, tapi kenapa dia harus meninggalkanku. Kenapa?

Malam ini hanya kuhabiskan dengan menangisi kebodohanku tanpa beranjak sama sekali dari posisiku yang terduduk dilantai dan bersandar pada sofa.

–o—

Sudah hampir 2 minggu aku tidak bertemu dengannya. Setiap aku ke kelasnya, dia selaku tidak ada. Saat kutanya pada Jessica, dia juga tidak tau kenapa Sooyoung tidak pernah hadir dan setaunya tidak terjadi apapun selama ini. Jika ditanya, Sooyoung hanya menjawab bangun kesingan, sedang tidak enak badan atau ada urusan penting. Dia juga selalu langsung pergi dari kelas saat kuliah usai.

Dia benar-benar menghindariku. Sebenarnya apa yang menyebabkan dia menghindariku? Kudengar dari Jessica juga kalau minggu depan dia akan menghadapi sidang akhirnya, lebih cepat dari beberapa mahasiswa lainnya. Aku tau dia memang pintar.

Setiap aku datang ke apartemennya, seperti tidak ada orang di dalamnya. Aku tidak tau apakah dia pergi atau memang mengurung dirinya di dalam dan tidak ingin menemuiku.

Apa yang harus kulakukan jika dia selalu menghindariku?

Untuk mengurangi stress, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri ke daerah hongdae. Biasanya aku berjalan bersama Sooyoung ke daerah ini. Karena Sooyoung menyukai suasana malam seperti ini saat dia berada di Paris dulu. Suasana ramai.

Di kanan-kiriku banyak kafe-kafe. Saat berjalan, ada satu kafe diseberang jalan tempat aku biasa datangi bersama Sooyoung. Melihat interior kafe itu dari luar membuatku mengingat Sooyoung kembali. Pertama kali kami kesana bersama karena Sooyoung tertarik dengan desain klasik pada interior luar kafenya.

Tiba-tiba mataku menangkap sosok yeoja yang selama ini kucari. Aku melihat Sooyoung sedang bersama seorang namja di dalam kafe itu. Mereka duduk tepat disamping kaca besar kafe itu dan mereka duduk berhadapan, sehingga dengan mudahnya aku bisa melihat mereka berdua dari luar.

Aku tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi sepertinya pembicaraan yang serius, terlihat dari ekspresi mereka berdua. Ada satu hal yang aku herankan dari mereka, namja itu menggenggam tangan Sooyoung di atas meja dan Sooyoung terlihat tidak menolaknya ataupun merasa risih. Dia hanya menatap lekat namja yang sedang berbicara dihadapannya.

Siapa namja itu? Aku tidak pernah tau Sooyoung mempunyai kenalan ataupun teman namja di Seoul. Aku hanya tau dia tidak dekat dengan siapapun selama di Seoul. Hanya aku, Jessica dan Donghae. Haruskah aku menghampiri mereka?

Saat aku hendak menyeberang jalan, aku lihat mereka beranjak dari duduknya dan akan pergi dari kafe itu. Tangan Sooyoung masih berada dalam genggamannya. Aku berdiri mematung diseberang jalan saat mereka keluar dari kafe dan aku saling bertatapan dengan Sooyoung.

Sooyoung terlihat kaget melihatku yang berdiri diseberang jalan dan melepaskan tangannya dari genggaman namja itu. Sontak sikap Sooyoung membuat namja itu ikut melihat ke arahku. Aku bisa lihat dari gerak bibir namja itu yang bertanya pada Sooyoung tetang siapa aku. Bukannya menjawab bahwa dia mengenalku, dia hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak mengenalku dan mengajak namja itu segera pergi.

Ada apa dengannya? Apakah namja itu alasan Sooyoung meninggalkanku? Aku memandangi mereka berdua yang berjalan ke sebuah mobil yang terpakir tidak jauh dari kafe itu.

Dilihat dari cara namja itu berpakaian dan mobil yang dia kendarai, sudah jelas terlihat dia dari keluarga yang cukup kaya. Mungkin sama kayanya dengan keluarga Sooyoung. Mulai terbersit pikiran-pikiran negatif. Apakah karena dia lebih kaya dariku menjadi alasan Sooyoung untuk meninggalkanku? Itukah alasannya dia merasa tidak pantas denganku? Karena aku tidak cukup kaya seperti dirinya? Ayahku memang hanya seorang dosen di Jepang dan membuka beberapa tempat kursus disana. Tidak seperti ayah Sooyoung yang seorang pengusaha hebat. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, Sooyoung bukanlah yeoja yang materialistis.

Aish.. memikirkannya malah membuatku semakin stress. Berjalan-jalan tidak memberikan efek positif untukku.

Sooyoung POV
Aku jadi teringat kejadian minggu kemarin, saat aku bertemu Kyuhyun. Melihatnya membuat kerinduanku seperti ingin meledak saat itu juga. Ingin aku saat itu berlari kepelukannya dan mengatakan ‘bogoshippo’. Tapi hal itu hanya akan menggoyahkan keputusanku untuk meninggalkannya.
Hah.. aku harus melupakan masalahku sejenak, karena aku harus fokus dengan sidangku yang tinggal beberapa menit lagi. Aku harus berhasil disidangku hari ini.

“Choi Sooyoung” aku mendengar namaku dipanggil.

“Ne” aku berdiri dari posisi dudukku dan menghampiri yeoja yang memanggil namaku tadi.

“Silahkan masuk”

Inilah saatnya hasil kerja kerasku selama 4 tahun kuliah dipertaruhkan oleh skripsi dan sidangku hari ini. Kurapikan kembali blazer biru mudaku dan kemeja abu-abu ku serta rok hitam selutut agar terlihat rapi oleh para pengujiku nanti. Aku harus bisa fokus sekarang. Fighting!

–o—

Setelah sidang selesai, aku menunggu hasil yang akan diumumkan sekarang juga. Aku gugup dengan hasilku. Beberapa mahasiswa yang memang mengikuti sidang hari ini sudah disebutkan hasilnya dan benar-benar sangat bagus. Rata-rata A. Bagaimana denganku? Nilaiku belum disebutkan.

“Choi Sooyoung” aku mengangkat tanganku saat namaku dipanggil dan menghampiri salah satu dosen yang memang menjadi penguji dalam sidang hari ini.

“Selamat nona Choi. Nilai anda sesuai dengan harapan kami semua. Nilai anda A+ dan tertinggi dari mahasiswa lainnya” aku sangat kaget mendengarnya. Senang sekali mendapatkan nilai terbaik. Kubungkukkan badanku berkali-kali dan mengucapkan terima kasih pada semua dosen pengujiku.

Senyuman tidak lepas dari bibirku saat keluar ruangan, sampai akhirnya senyumku menghilang saat mataku tertuju pada seorang namja yang sudah berdiri menungguku di luar. Namja yang sebelumnya selalu aku pikirkan sebelum sidang menegangkan itu dimulai.

Dia melihat ke arahku dan berjalan menghampiriku. Aku hendak pergi dari hadapannya, tapi tanganku sudah terlebih dulu ditahannya.

“Jangan pergi dulu, ada yang perlu kita bicarakan” aku membelakanginya. Aku tidak sanggup menatap wajahnya. Jika melihatnya, aku ingin sekali menyentuh lagi wajahnya dan memeluknya sekarang juga. Menyalurkan semua kerinduanku padanya.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi oppa. Semua yang aku katakan waktu itu sudah cukup jelas. Jadi aku mohon biarkan aku per..”

Dia menarik tanganku dan membawaku ke arah taman kampus bagian utara. Aku tidak dapat menolaknya, karena cengkraman tangannya sangat kencang sampai aku merasa sedikit sakit. Suasana taman kampus cukup sepi. Mungkin karena memang sangat jarang mahasiswa yang memilih datang kesini. Lebih banyak yang mengunjungi taman kampus di bagian timur yang terlihat lebih asri dan sejuk.

Posisi kami berhadapan sekarang. Tatapannya yang lembut padaku, tatapan yang dia berikan saat kami pertama kali bertemu di perpustakaan. Aku benar-benar merindukannya.

“Kenapa kau selama ini menghindariku?” aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Hal yang kuingin dia tidak akan pernah mengetahuinya.

“Aku mohon jangan pernah menghindariku lagi. Kau tidak tau bagaimana tersiksanya diriku saat kau menghindariku dan aku tidak bisa melihatmu lagi. Kau menjadi suatu hal yang sangat sulit kugapai. Hidupku terasa hampa semenjak kau meniggalkanku” aku tetap terdiam mendengarkan penuturannya. ‘Nado oppa’ aku ingin sekali mengatakannya. Tapi kukunci rapat-rapat apa yang ingin kuucapkan padanya.

“Sooyoungie” aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku.

“Siwon oppa” aku terkejut melihat Siwon sudah berdiri dibelakangku. Dia membawa sebuket bunga ditangannya. Kulirik ke arah Kyuhyun. Terlihat tatapannya yang menahan amarah saat menatap Siwon. Kulepas perlahan genggaman tangan Kyuhyun dan menghampiri Siwon.

“Apa yang oppa lakukan disini dan bagaimana oppa bisa tau aku disini?” tanyaku pada Siwon saat sudah berdiri dihadapannya. Walaupun aku sedikit membelakangi Kyuhyun, tapi aku dapat melihat tatapan Siwon tertuju lurus ke arah belakangku. Aku yakin mereka berdua sedang saling bertatapan. Kusentuh lengan Siwon dan membuatnya menatapku.

“Oh, aku hanya ingin menanyakan tentang sidangmu dan sekaligus mengucapkan selamat padamu. Tadi aku bertanya pada mahasiswa lain yang berada didekat ruang sidangmu. Katanya kau mendapatkan nilai A+ dan kau pergi bersama seorang namja kesini. Oh iya, ini bunga untukmu. Chukkae” dia tersenyum menatapku dan kubalas juga senyumannya. Kuhirup sekilas bunga yang sekarang berada digenggamanku. Bunga mawar putih, aku suka sekali dengan wanginya.

Kulirik lagi ke arah Kyuhyun. Tatapannya masih sama. Dia benar-benar terlihat menahan amarahnya. Dia juga mulai mengepalkan tangannya.

“Oppa sudah tidak ada urusan pekerjaan lagi kan? Bagaimana kalau kita merayakannya berdua? Aku akan mentraktir oppa. Kajja” tanpa mendengar jawabannya, aku menarik tangan Siwon untuk mengajaknya segera pergi dari sini. Saat aku hendak melangkah, lenganku dipegang oleh Kyuhyun.
“Kita belum selesai bicara” ucap Kyuhyun padaku.

“Mianhae, seperti yang aku bilang. Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan” kulepaskan perlahan tangannya yang memegang lenganku.

Saat aku dan Siwon mulai melangkah, kata-kata yang diucapkan Kyuhyun selanjutnya membuatku menghentikan langkahku kembali dan membuat hatiku hancur. Tapi aku berusaha untuk tegar.

“Apakah karena dia kau meminta putus dariku? Apa karena dia terlihat lebih kaya dariku? Apakah itu alasanmu selama ini menghindariku dan mengatakan bahwa kau tidak pantas untukku? Karena kau lebih memilih bersamanya yang sama derajatnya denganmu?” rasanya aku ingin sekali membantah semua pertanyaan yang dia tanyakan padaku. Tapi yang aku katakan justru kebalikan dari isi hatiku.

“Ne, oppa benar. Karena kami sama, jadi aku lebih memilihnya”

“Ah.. gurae. Selama ini aku memang telah salah menilaimu. Kukira kau berbeda dengan yeoja kaya lainnya. Tapi ternyata kau sama saja, materialistis” kutahan air mata yang sudah ingin keluar dari mataku. Aku tidak boleh menangis dihadapannya.

“Kau tidak mengerti. Sooyoung bukan yeoja seperti itu” Siwon mulai berbicara dan nada bicaranya terdegar sangat tegas.

“Ne, kau benar. Aku sepertinya memang tidak mengerti siapa Sooyoung. Kuucapkan selamat atas hubungan kalian” kurasakan genggaman tangan Siwon yang mulai mengeras dan tangan yang satunya mengepal. Kugenggam tangannya yang mengepal agar amarahnya sedikit meredam dan agar dia tidak mengatakan apapun lagi. Aku sangat takut Siwon akan mengatakan yang seharusnya tidak dia katakan. Siwon menatapku, aku menggelengkan kepala. Seakan mengerti maksudku, dia menarikku pergi dari taman yang mulai terasa menyesakkan bagiku dan meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri disana sambil menatap kepergian kami.

Jeongmal mianhae oppa. mungkin dengan kau menganggapku seperti itu akan lebih memudahkanmu untuk melupakanku. Bencilah diriku, lupakan diriku dan carilah yeoja lain yang benar-benar lebih baik dariku.

TBC

Bagaimana? Makin bagus atau makin gak jelas? Comment ya… don’t forget ^^

Advertisements

20 thoughts on “Hate Or Love (Part 4)

  1. ada apa antara soo eonnie sama seo??
    kok soo eonnie sampe ngelepasin kyuppa,
    nyesek bacanya, d tunggu lanjutannya

  2. Beneran. .
    Aku pngen bnget meluk Kyu sekarang . . HIks. Past galau bnget. .
    Dapet fEel.y thor . .
    Next ne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s