Hate Or Love (Part 6)

Title : Hate Or Love (Part 6)
Author : deyvible
Genre : romance, sad, complicated
Cast : Cho Kyuhyun , Choi Sooyoung
Other cast : find it

FF ini murni dari ideku. Jika ada kesamaan mohon maaf dan mention @deyvible18 atau tinggalkan comment. Happy reading ^^

Kyuhyun POV

Saat aku baru masuk ke dalam apartemenku, aku mendengar suara dentingan piano yang mengalun dari ruang tengah apartemenku. Aku memang meletakkan sebuah piano yang biasa aku mainkan diwaktu senggang di ruang tengah. Saat aku melangkah lebih dalam ke arah ruang tengah, alunan nada piano tersebut semakin indah kudengar. Harmonisasinya pas. Siapa yang memainkannya?

Kulihat seorang yeoja sedang memainkan pianoku. Dari samping aku dapat melihat jelas siapa yeoja itu. Kuambil sebuah handycam yang aku letakkan di dalam laci kecil meja, tak jauh dari piano itu. Tapi sepertinya yeoja itu masih tidak menyadari keberadaanku, karena dia terlihat sangat menghayati permainan pianonya dan sambil menutup mata. Kunyalakan handycamku dan aku mengarahkan ke yeoja itu. Aku merasa ini harus aku abadikan sebagai kenang-kenangan.

Aku terus merekamnya sampai dia selesai memainkannya. Saat dia sudah selesai, aku bertepuk tangan dan akhirnya dia menyadari keberadaanku yang sedari tadi berdiri tak juah darinya. Wajahnya terlihat terkejut melihatku dan ekspresi terkejutnya membuatku ingin sekali mencubitnya.

“Apa yang oppa lakukan disitu? Sejak kapan oppa tiba? Oh, oppa merekamku! Cepat matikan handycamnya” ucapnya sambil melangkah mendekatiku dan hendak mengambil handycam yang masih aku pegang untuk merekamnya.

“Sudah kau diam saja. Aku masih ingin merekammu” ucapku balik sambil terus mencoba menghindarinya dengan sedikit berjalan mundur secara perlahan agar gambarnya tetap fokus pada dirinya.

“Tapi aku malu. Sudah matikan. Ya!! Oppa!! cepat berikan padaku!” kami akhirnya berkejar-kejaran di dalam apartemenku. Dia terus berusaha mengejarku dan ingin mengambil handycamku, sampai akhirnya kami terjatuh di sofa dengan posisi dia berada diatasku. Tangan kananku memegang pingganya dan tangan kiriku yang memegang handycam terjepit disamping badan kami, sehingga handycam tersebut mengarah kesamping wajah kami berdua.

Kami terdiam dalam posisi ini. Saling mengamati wajah masing-masing. Sampai akhirnya aku memajukan wajahku dan menempelkan bibir kami. Dia tidak menolak sama sekali perlakuanku, dia hanya membalas ciumanku. Tidak ada kesan menuntut dalam ciuman kami. Hanya perasaan rindu yang membuncah karena sudah beberapa hari ini kami tidak dapat bertemu.

Kulepaskan ciuman kami dan kami saling menatap. Deru nafas yang belum teratur menerpa wajah kami. Tanpa kusadari, tiba-tiba dia mengecup sekilas bibirku dan langsung membenamkan wajahnya didadaku. Aku hanya bisa tersenyum dengan perlakuannya yang sangat tiba-tiba dan jarang ini.

“Saranghae Choi Sooyoung” ucapku padanya.

“Nado saranghae Cho Kyuhyun” dia membalas ucapanku tanpa merubah posisinya yang masih membenamkan wajahnya didadaku. Yeojaku ini memang sangat pemalu.

Sepertinya dia sudah lupa dengan handycam yang masih kugenganggam dalam keadaan yang masih menyala juga. Biarkan aku menyimpan kenangan romantis ini. Suatu saat aku ingin kami bisa melihat kembali kejadian romantis ini bersama.

–o—

Aku terjaga dari tidurku. Kuposisikan tubuhku duduk di ranjang dan melihat jam dinding yang menujukkan pukul 5 pagi. Mimpi itu… kejadian diawal kami pacaran. Tanpa terasa sebuah senyuman muncul dibibirku. Tapi seketika itu juga senyumanku hilang. Mengingat bagaimana keadaan kami sekarang.

Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi setelah wisuda waktu itu.

Sudah hampir 3 tahun aku tidak bertemu dengannya. Dia ada dimana? Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah menikah dengan Siwon?

Itu yang selalu aku pikirkan selama hampir 2 tahun ini. Aku sama sekali tidak pernah bisa melupakan perasaanku. Sepahit apapun yang dia ucapkan ataupun perbuatannya padaku, aku masih mencintainya. Sampai sekarang.

Author POV

“Kyuhyun-ah, eomma ingin kau menemani Yoona ke Jeju besok. Kasihan dia harus menghadiri pertujukan musik itu sendiri. Kata eommanya, sebenarnya dia akan pergi dengan temannya, tapi mendadak temannya tidak bisa ikut. Jadi lebih baik kau yang menemaninya. Lagipula sayang tiketnya jika harus terbuang. Ya sayang?”

Kyuhyun hanya bisa menghela nafas mendengar perintah eommanya. Dia memang paling tidak bisa membantah apa yang telah dikatakan oleh kedua orang tuanya.

“Ne, eomma. Aku bisa. Aku akan menghubungi Yoona nanti”

“Eomma sudah yakin kau pasti bisa. Jangan lupa ya untuk menghubungi Yoona. Eomma harap kalian bisa semakin dekat selama di Jeju. Annyeong”

Ttuuut.. tttutttt…

Kyuhyun langsung menghubungi Yoona setelah pembicaran dengan eommanya lewat telepon selesai.

“Yeoboseyo?”

“Yoona, ini aku Kyuhyun. Aku akan menemanimu ke Jeju besok” ucap Kyuhyun.

“Hmm oppa tidak perlu menemaniku. Tidak apa-apa aku pergi sendiri. Aku takut mengganggu oppa” terdengar nada ragu saat mengatakannya.

“Ani. Besok sampai 2 hari kedepan aku memang libur. Jadi tidak apa-apa aku pergi denganmu. Nanti kau kabari aku jam berapa besok kita berangkat. Karena sekarang aku harus pergi” ucap Kyuhyun lagi pada Yoona.

“Ne, arraseo. Hati-hati di jalan oppa. Annyeong”

“Ne, annyeong”

Ttuuut..ttuut…

Kyuhyun memasukkan handphonenya ke dalam saku mantelnya dan melanjutkan langkahnya berjalan disepanjang sungai Han. Sebenarnya dia tidak pergi kemana-mana, hanya berjalan-jalan disekitar sungai Han. Memutar kembali memori saat bersama Sooyoung dulu. Saat masih bersama, mereka selalu berjalan bersama sambil bergandengan tangan disini hampir setiap akhir minggu. Hanya berjalan menikmati udara dan pemandangan disekitarnya. Saling memberikan kehangatan melalui genggaman tangan masing-masing.

Tapi itu dulu, bukan sekarang. Saat ini Kyuhyun hanya memasukkan tangannya kedalam saku mantelnya, mencoba menghangatkan diri sendiri. Tapi tetap saja rasanya masih terasa dingin.
Perpisahan dengan Sooyoung lebih terasa menyakitkan daripada saat Seohyun meninggalkannya. Ada perasaan berbeda yang dirasakan Kyuhyun saat bersama Sooyoung dan Seohyun. Walaupun hubungannya dengan Sooyoung terbilang lebih sebentar daripada bersama Seohyun, tapi rasa cintanya lebih dalam kepada Sooyoung. Merasa lebih terpuruk.

Saat menemukan sebuah bangku kosong, Kyuhyun memutuskan untuk duduk disana dan memandangi pemadangan didepannya. Orang-orang yang berada disekitarnya tak luput dari pandangannya, berharap Sooyoung tiba-tiba akan muncul dan tersenyum kepadanya, seakan tak pernah terjadi apapun. Tapi selama apapun Kyuhyun duduk, sosoknya tak pernah muncul.

Sepasang namja dan yeoja berjalan melewatinya sambil bergandengan tangan. Kyuhyun memandangi mereka, seperti membayangkan bahwa itu dalah dia dan Sooyoung. Dipandanginya genggaman tangan mereka dan beralih ke tangannya. Tangan yang hampa, dingin tanpa kehangatan. Tanpa terasa Kyuhyun meneteskan air matanya.

Ingatan tentang Sooyoung memiliki pengaruh besar dalam dirinya. Kyuhyun menjadi pribadi yang berbeda semenjak Sooyoung pergi. Dingin dan sensitive. Niat awalnya untuk segera mengenalkannya pada orang tuanya di Jepang pupus sudah, justru orang tuanya mengenalkan seorang yeoja yang tidak pernah dia kenal sama sekali 1 tahun yang lalu.

Im Yoona

Sekarang hanya dia yeoja yang berada disekitarnya selama ini, menggantikan posisi Sooyoung dan menjadi calon tunangannya sekarang. Tapi tidak dengan posisi cinta Sooyoung di hati Kyuhyun. Jika mengingat bagaimana hubungan Kyuhyun dan Yoona, justru membuat Kyuhyun semakin sedih. Karena dia seperti sedang memberikan sebuah harapan palsu. Membiarkan Yoona berada disisinya, tapi tidak ada perasaan cinta untuknya. Kyuhyun hanya mengikuti apa yang dikatakan orang tuanya dan mencoba Yoona untuk menjadi salah satu cara untuk melupakan Sooyoung. Tapi hasilnya selama 1 tahun ini Kyuhyun masih tetap memikirkan Sooyoung. Sikapnya kepada Yoona juga terbilang biasa saja, bahkan terkadang agak dingin. Walaupun Yoona selalu bersikap baik pada Kyuhyun.

Hanya isakan tangis yang terdengar dari Kyuhyun sekarang. Menangisi semua kebodohannya dan keterpurukannya.

“Mianhae…”

Kyuhyun POV

Aku langsung merebahkan tubuhku dikasur. Walaupun hanya perjalanan singkat, tapi badanku tetap terasa sangat lelah. Aku sekarang sudah berada di Jeju, tepatnya di hotel. Kami baru saja tiba dan aku langsung memutuskan untuk istirahat. Aku dan Yoona memang memesan kamar yang berbeda, karena tidak mungkin kami sekamar. Rasanya masih terasa canggung saat kami harus hanya berdua dalam satu ruangan. Berbeda saat aku dengan Sooyoung. Dulu aku tidur sekamar dengan Sooyoung saat kami berlibur ke Jeju bersama Donghae-Jessica, karena itu justru membuatku merasa nyaman. Ada orang yang menemaniku tidur walaupun kami tidak melakukan apapun yang diluar batas.

Lebih baik aku langsung mengisitirahatkan tubuhku untuk nanti malam.

Belum ada satu menit aku memejamkan mata, ada suara ketukan pintu yang membuatku terpaksa untuk bangun. Kubuka pintu kamarku dan ternyata Yoona sudah berdiri didepanku.

“Ada apa?” tanyaku padanya.

“Mianhae karena sudah mengganggu istirahat oppa. Aku hanya ingin memberitahu oppa kalau acara nanti malam jam 7. Aku akan menunggu oppa di lobby hotel karena aku sudah memesan mobil dan supir yang akan mengantar kita nanti” jelasnya padaku.

“Hmm ok, arraseo” kuanggukan kepalaku.

“Kalau begitu selamat beristirahat oppa. Kalau ada yang oppa perlukan, ketuk saja pintu kamarku” ucapnya lagi sambil tersenyum padaku.

“Ne” hanya jawaban singkat yang aku berikan dan langsung menutup pintu kamarku.
Masih terasa berat untukku membalas senyumannya. Terkadang hanya senyum paksaan yang aku tunjukkan padanya. Hanya untuk membuatnya senang. Kupijat pelipisku untuk menghilangkan sedikit pusing dikepalaku dan kembali merebahkan tubuhku dikasur.

–o—

Aku menunggu Yoona di depan lobby sejak setengah jam yang lalu. Awalnya memang dia yang menunggu, tapi ternyata handphone dan tiket acara kami tertinggal di kamarnya. Aku terpaksa menunggunya sekarang walaupun aku sudah mulai merasa bosan.

Dari sini akhirnya aku bisa melihat Yoona yang muncul dari dalam. Aku melihat Yoona yang sedikit berlari menghampiriku.

“Mianhae oppa aku terlalu lama. Tadi aku lupa meletakkan handphoneku dimana” ucapnya dengan wajah menyesal.

“Gwaenchanha. Lebih kita berangkat sekarang” usulku.

“Ne”

Kami duduk berdua di kursi belakang. Dia mengajakku berbicara, tapi aku tidak terlalu merespon. Hanya sesekali menjawab dan tersenyum.

Saat kami sampai, sudah banyak orang yang datang. Hampir memenuhi pintu masuk. Sebenarnya siapa yang akan tampil? Aku hanya tau dia seorang pianis. Aku mencoba mencari banner yang mungkin diletakkan di area pintu masuk. Salah satu banner yang dapat kulihat justru sedikit tertutup oleh seorang namja. Aku hanya bisa melihat potongan namanya dan foto dari orang yang akan tampil itu justru tidak terlihat.

‘Summer..’

Siapa dia? Aku tidak pernah mendengarnya. Yeoja? Namja?

“Oppa, ayo kita masuk. Acara akan segera dimulai” dia mengalungkan tangannya di lenganku dan langsung mengajakku masuk. Sudah banyak orang yang duduk di dalam dan sepertinya memang acaranya akan segera dimulai. Seorang namja muncul diatas panggung.

“Selamat malam dan selamat datang para hadirin. Malam ini, kita akan menyaksikan pertujukan seorang pianis muda berbakat. Ini adalah pertunjukan pertamanya di Korea, karena sebelumnya dia hanya tampil di beberapa tempat di Eropa. Mungkin beberapa orang sudah mengenalnya, terlebih dibeberapa kalangan pianis. Tanpa perlu panjang lebar, saya persembahkan pertunjukkan tunggal dari Summer Choi. Give applause for her”

Seorang yeoja dengan balutan dress berwarna merah marun naik ke atas panggung dan hal ini benar-benar membuatku sangat terkejut. Benarkah apa yang kulihat sekarang? Atau ini hanya khayalanku yang terlalu lama merindukan sosoknya? Aku benar-benar terpana melihatnya. Dia tetap cantik dan anggun seperti terakhir kali aku melihatnya. Tidak ada satu pun yang berubah, terutama senyumnya.

Mataku tak dapat lepas dari sosok yeoja yang sangat serius memainkan alunan nada-nada indah dari permainan pianonya. Semua yang ada pada dirinya sama sekali tidak berubah. Tetap membuatku selalu terpana akan permainannya.

“Permainan pianonya sangat indah. Dia memang pantas mendapatkan julukan pianis berbakat. Benar kan oppa?” tanya Yoona padaku yang masih tetap tidak mengalihkan pandanganku dari sosok yoeja yang mengagumkan.

“Ne” jawabku lirih.

–o—

Tak terasa pertunjukan sudah selesai dan Yoona langsung mengajakku kesuatu tempat didalam gedung ini. Aku hanya mengikutinya dari belakang tanpa menanyakan kemana arah dia akan berjalan. Tapi firasatku dia mengarah ke backstage panggung. Mungkinkah aku akan bertemu dengannya? Tapi kurasa tidak mungkin. Kami bukanlah orang berkepentingan disini.

Yoona menghampiri seorang namja yang menurutku salah satu crew pertunjukkan.

“Oh, Yoona-ssi! Lama tidak bertemu” sapa namja itu pada Yoona.

“Ne, Kris-ssi. Lama tidak bertemu juga” sapa Yonna pada namja itu. Dari wajahnya, tidak seperti orang Korea.

“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau ingin bertemu dengannya?” tanyanya pada Yoona yang hanya dibalas dengan anggukan.

“Baiklah. Aku tau, pasti kau rindu dengannya karena sudah lama tidak bertemu. Ayo kuantar ke ruangannya”

“Gamsahabnida” ucap Yoona dengan sedikit membungkukkan badan. Tapi sebelum berjalan, namja itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arahku.

“Nugu?” tanyanya pada Yoona.

“Oh mianhae aku lupa memperkenalkannya. Dia calon tunanganku, Cho Kyuhyun” jelasnya pada namja yang bernama Kris. Aku hanya dapat tersenyum tipis.

“Wu Yifan imnida. Tapi kau bisa memanggilku Kris” dia mengulurkan tangannya seraya mengajakku berjabat tangan.

“Cho Kyuhyun imnida” balasku.

“Kris-ssi adalah seorang produser musik yang menangani pertunjukkan ini dan Kyuhyun oppa adalah salah satu dosen jurusan seni musik di Seoul University”

“Ah.. senang berkenalan denganmu. Kalau begitu sebaiknya kita ketempatnya sekarang”
Kami melanjutkan langkah kami ke salah satu ruangan yang bisa terbilang tertutup, atau lebih tepatnya terlihat lebih private.

Kris langsung membuka pintu ruangan tersebut dan ternyata didalam ruangan sudah ada seorang yeoja yang sedang duduk menghadap cermin. Aku dapat melihat wajahnya dicermin. Dia terlihat sedang membersihkan make up diwajahnya. Wajahnya membuatku terpana.

“Summer, Yoona mencarimu”

Akhirnya aku bisa melihat wajah yang sangat kurindukan secara langsung.

“Yoona? Aku pikir kau tidak akan datang” ucapnya pada Yoona sambil memeluknya. Sepertinya dia belum menyadari keberadaanku.

“Aku pasti datang. Mana mungkin aku melewatkan pertujukan perdana sahabatku di Korea”
Apa yang diucapkan Yoona benar-benar membuatku tercengang. Sahabat? Sekarang aku mulai merasakan bahwa dunia ini sempit.

“Aku tinggal dulu ya, masih ada beberapa hal yang harus kuurus” Kris keluar dari ruangan dan meninggalkan kami bertiga.

“Aku dengar dari eommonim kalau kau akan segera bertunangan. Benarkah itu? Aku tidak menyangka akan secepat ini” senyumannya, masih sama seperti dulu. Tapi perkataannya membuat tubuhku terasa kaku. Calon tunangan? Rasanya aku sangat ingin pergi sekarang.

“Oh iya, aku datang bersamanya” tanpa kusadari, Yoona sudah menggandeng tanganku dan membuatku berdiri disampingnya.

Mataku dan matanya saling bertatapan. Tapi dapat terlihat jelas tatapan shock saat menatapku.

“Perkenalkan, dia Cho Kyuhyun, calon tunanganku” ruangan terasa sangat sunyi setelah apa yang diucapkan Yoona.

“Oppa, dia Summer Choi, pianis tadi. Nama Koreanya Choi Sooyoung. Dia sahabatku di Paris” tatapanku hanya tertuju pada yeoja dihadapanku. Kami bertatapan cukup lama sampai akhirnya Yoona memanggilku.

“Kyuhyun oppa? Ada apa?” tanya Yoona padaku.

“Ani” jawabku.

“A..annyeonghaseyo. Choi Sooyoung imnida. Senang berkenalan denganmu” perasaan tidak enak menjalari tubuhku saat dia seakan-akan tidak mengenalku. Tapi dapat terlihat jelas tatapan sendunya saat menatapku. Atau hanya perasaanku saja?

“Mianhae, apakah aku menggangu?” kami semua mengalihkan pandangan kami kearah Kris yang muncul dari balik pintu.

“Ah, tidak Kris-ah. Ada apa?” tanya Sooyoung.

“Aku baru ingat, kita harus segera pergi karena aku sudah membooking restaurant untuk merayakan pertunjukkan perdanamu. Semua crew sudah berangkat duluan” jelas Kris.

“Ne, aku akan segera keluar. Kau duluan saja” balas Sooyoung dengan senyuman hangat. Rasanya aku tidak suka jika dia memberikan senyumannya untuk namja lain selain diriku.

“Kalau begitu aku tunggu kau dimobil, karena tinggal kita berdua” Sooyoung hanya membalasnya dengan anggukan dan Kris kembali pergi.

“Mianhae, aku harus segera pergi. Lain kali kita berbincang-bincang lagi” ucapnya sambil membereskan barang-barang bawaannya.

“Ne, gwaenchanha. Kalau begitu kami keluar duluan. Selamat atas pertujukan perdanamu” Yoona memeluk sekilas Sooyoung dan mengajakku pergi. Kami sempat bertatapan sebelum pintu tertutup. Mungkinkah kami bertemu lagi?

Sooyoung POV

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya kembali. Semua ini masih terasa seperti mimpi. Hal yang selama ini aku hindari jika suatu saat aku kembali ke Korea. Inilah yang menjadi ketakutanku sejak dulu. Bertemu dengannya kembali. Bertemu dengannya seakan membuka kembali luka lama dalam hatiku. Sesuatu yang selama ini aku coba lupakan.

“Gwaenchanha?”

Sesaat aku baru tersadar jika sejak tadi Kris berada disampingku dan kami sudah berada didepan pintu kamarku. Dia menatapku dengan pandangan khawatir.

“Ne, gwaenchanha” aku mencoba tersenyum padanya.

“Tapi dari tadi kau terlihat melamun. Bahkan saat di restaurant kau lebih banyak diam. Apa kau sakit?” dia mengusap rambutku secara perlahan.

“Ani. Gwaenchanha. Mungkin aku hanya lelah” aku hanya bisa berbohong padanya agar dia tidak semakin mengintrogasiku.

“Ya, mungkin kau hanya kelelahan. Setelah ini kau harus langsung mandi dan istirahat. Kau juga jangan terlalu banyak berpikir. Aku tidak ingin kau menjadi sosok pendiam dan murung seperti dulu lagi. Itu membuatku sedih” ucapnya sambil menggenggam kedua tanganku. Perlakuannya yang seperti ini selalu membuatku merasa tidak enak padanya.

“Ne, arraseo. Kau juga harus istirahat. Karena kau yang lebih banyak memforsir tubuhmu untuk persiapan pertunjukanku”

“Aku tidak pernah merasa lelah jika itu semua untukmu”

Kami saling tersenyum satu sama lain dan dia mengecup keningku.

“Jaljayo” ucapnya sambil mencium keningku.

“Jaljayo” dapat kurasakan hembusan nafasnya didepan wajahku yang membuatku reflek menutup mataku dan dapat kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh permukaan bibirku.

Aku hanya diam tanpa membalas ciumannya. Hanya merasakan kelembutan bibirnya dibibirku. Perasaan bersalah muncul dalam hatiku dan tanpa terasa aku menahan air mata yang akan menetes dari mataku.

‘Mianhae..’

TBC

Makin membosankan atau semakin menarik? Semoga makin menarik walaupun aku sendiri gak yakin -__-“ Keep RCL ya.. ^^

Advertisements

15 thoughts on “Hate Or Love (Part 6)

  1. Ha? ?
    SoO skrang ama kris lgI . .

    Ya ampun thor . .
    Kyuyoung.y kapan. ? . .
    Aku miris ngeliat mereka. . Kasian bnget kan. .
    HufFpt. .
    SoO ayo ju2r ama kyu doNg . . .
    Dia bkalan maApin kmu kok .

  2. Kependekan thor .__. #dibuang author
    Bener-bener tambah rumit. Awalnya udah lega Soo sama Siwon. Karna Siwon disana ga ad rasa khusus sma Soo. Tp skrg malah sma Kris? Oh God x_x
    Ditunggu kelanjutannya ya~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s